Silvia Yakin Toleransi Dapat Mencegah Kekerasan
April 5, 2016
Show all

Action! Menjadi Inspirasi bagi Tantra

Diberikan kesempatan menjadi Action! volunteer merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya untuk meningkatkan soft skill yang nantinya saya percaya membantu saya mencapai aktualisasi diri. Selain itu, bertemu dan bekerja sama dengan orang-orang yang memiliki concern di bidang kekerasan dan bertemu berbagai karakter orang dengan background pengalaman yang berbeda pula membuat saya semakin yakin untuk melakukan hal serupa setelah saya selesai dari rangkaian program ini. Berikut saya akan menceritakan pengalaman saya menjadi bagian dari Action! Peer Consulting Workshop perdana yang dilaksanakan di SMPN 18 Jakarta pada Sabtu, 19 Maret 2016.

***

Sesuai dengan kesepakatan sedari awal, saya berperan sebagai volunteer hingga acara pembukaan selesai. Telah dijelaskan pula bahwa akan ada rangkaian workshop setelah pembukaan yang akan dilakukan di Jakarta dan Bandung. Akan tetapi, SMPN 4 Jakarta yang dijadikan sasaran lokasi workshop tidak menyanggupi untuk menyediakan tempat. Oleh sebab itu, saya berinisiatif menghubungi SMPN 18 Jakarta karena saya merasa sambutan pihak sekolah cukup baik semenjak saya dan Dwi (yang juga volunteer) datang serta juga karena adanya kemudahan komunikasi (via aplikasi WhatsApp). Di samping itu, lokasi sekolah yang dekat dengan stasiun kereta juga membuat urusan transportasi lebih mudah.

Koordinasi saya lakukan dengan memberitahukan kondisi bahwa Action! ingin mengadakan workshop di SMPN 18 Jakarta dan, setelah melalui proses administrasi, workshop dapat dilakukan di SMPN 18 Jakarta sesuai hari yang ditentukan. Beberapa catatan dari pihak guru SMPN 18 terkait keterlibatan sekolah saya komunikasikan dengan kak Ghivo sebagai ketua tim Action! dan kesepakatan pun tercapai.

***

Pada hari Sabtu tanggal 19 Maret 2016, rangkaian workshop diawali oleh persiapan saya bersama tim Action! yang menginap di Hotel Ibis Cikini menuju SMPN 18 Jakarta. Sesampainya di lokasi, saya mengecek kembali ruangan dan memastikan susunan bangku telah sesuai untuk kebutuhan acara. Kendala yang saya hadapi ketika itu adalah proyektor ruangan yang ternyata memiliki aturan layar yang lebar. Meskipun pada akhirnya dapat diatasi, saya tidak dapat mengatasi masalah tersebut sendiri karena harus mobile mempersiapkan ruangan untuk coffee break dan tempat ibadah. Kendala lain adalah tidak adanya kabel audio jack. Masalah tersebut dapat diatasi dengan bantuan dari pihak penjaga sekolah. Setelah masalah ruangan beres, tugas saya selanjutnya adalah menjadi operator laptop untuk berjalannya rangkaian workshop. Namun, tugas ini tidak jadi saya lakukan karena saya diamanahkan untuk mengurus urusan administrasi dengan pihak sekolah.

Dalam workshop, kak Ravio sebagai fasilitator umum memberi pengertian kepada saya bahwa dia sanggup melakukan tugas yang seharusnya saya lakukan sehingga kendala dapat diatasi. Kegiatan yang saya lakukan selama menunggu beberapa guru yang belum datang adalah berinteraksi bersama para guru SMPN 18 Jakarta. Saya senang karena pihak sekolah menerima saya dan panitia dengan baik. Saya juga merasa beruntung karena ibu Lestari dari bagian kesiswaan memberikan perhatian penuh terhadap berjalannya acara ini mulai dari memilih siswa dan guru yang datang, membantu mobilisasi siswa, dan juga aktif dalam diskusi bersama dalam acara.

***

Saya menggunakan kesempatan selama menunggu guru yang datang untuk melakukan observasi terhadap berjalannya kegiatan di dalam ruang aula. Saya melihat bahwa selama diskusi di awal, sesuai dengan testimoni guru SMPN 18 bahwa kebanyakan anak-anak SMP tersebut terlihat malu untuk mengungkapkan pendapat dalam diskusi. Terlepas dari kondisi sosial ekonomi yang terbilang berasal dari keluarga kelas ekonomi menengah ke bawah (menurut pihak sekolah), menurut saya memang wajar karena mereka tidak banyak tahu mengenai apa yang akan mereka lakukan selama mereka mengikuti acara hari itu. Akan tetapi, saya senang melihat adik-adik SMP tersebut terlihat antusias menceritakan pengalamannya yang terlihat di beberapa kelompok seperti kelompok 7 bersama Eki dan kelompok 2 bersama kak Anbar.

Pengalaman menarik lain yang saya dapatkan selama acara workshop adalah kesempatan untuk berbagi pengalaman dan pikiran bersama para guru SMPN 18 jakarta. Hampir semua guru setuju bahwa adanya acara ini sangat bermanfaat, meski begitu ada salah satu guru yang memberikan masukan kepada saya bahwa seharusnya kegiatan penyamaan persepsi (sebutan saya) seperti ini dapat disampaikan kepada pembuat kebijakan. Alasan tersebut dikemukakan karena banyak para petinggi pengambil keputusan tidak memiliki pengetahuan dasar atas keputusan yang mereka buat mengenai pendidikan di Indonesia. Selain itu, tak jarang beberapa guru ’curhat’ kepada saya bahwa jika ada guru dari sekolah unggulan yang mengajar di SMP 18, mereka tidak akan betah karena kesejahteraan sosial ekonomi lingkungan daerah Menteng Kecil yang relatif rendah.

***

Menjelang berakhirnya acara, saya mengucapkan terimakasih kepada bapak Haris selaku staf Tata Usaha (TU) dan mengucapkan terimakasih kepada pihak kebersihan serta catering. Setelah semua perlengkapan dibereskan, saya menunggu di dalam ruangan untuk penutupan. Senang rasanya mendengar respon adik-adik terhadap berlangsungnya acara di hari tersebut; termasuk mendengar respon para guru terhadap kami. Setelah semua siswa keluar kami berfoto bersama para guru dan panitia. Sebenernya ada beberapa hal yang membuat saya merasa tidak profesional terhadap tugas saya di awal, namun di sisi lain terbatasnya jumlah panitia membuat saya maklum terhadap situasi dan kondisi.

Bertemu dengan orang-orang baru, terlebih yang sudah memiliki banyak pengalaman, membuat saya menjadi terbuka akan dunia di luar kampus. Terima kasih banyak untuk kesempatan memeroleh pengalaman yang sudah diberikan baik dari tim Action! serta SMPN 18 Jakarta. Semoga ke depannya, masukan terhadap kegiatan dan program Action! dari berbagai pihak membuat Action! berkembang dan menciptakan toleransi ke lingkup masyarakat yang lebih luas, sehingga tujuan program ini dapat dirasakan oleh banyak pihak. Terima kasih banyak, terutama untuk kak Silvia yang menjadi mentor saya semenjak menjadi mahassiswa Psikologi UI hingga kini meskipun sudah berbeda ‘dimensi’. Untuk kak Ghivo yang keren banget dan menginspirasi.

Semoga perkenalan kita bisa tidak berhenti di sini ya kakak-kakak semua!


Tantra Pramodha  adalah mahasiswa Psikologi di Universitas Indonesia dan berkontribusi sebagai Action! Volunteer untuk Strategic Partnership Team dalam rangkaian kegiatan grand launching event dan peer consulting workshop di Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *