Sartika Percaya Ada Solusi untuk Setiap Masalah
April 5, 2016
Action! Menjadi Inspirasi bagi Tantra
April 5, 2016
Show all

Silvia Yakin Toleransi Dapat Mencegah Kekerasan

Wow! Segampang itu ya mengatai orang lain.
Wow! Sebanyak itu ya jenis julukan untuk orang lain.
Wow! Hal yang dianggap biasa bisa jadi bahaya.

***

Setelah persiapan berbulan-bulan, kami melaksanakan workshop pada Sabtu, 19 Maret 2016. Sejak pagi, kami sudah bergegas menuju ke sekolah dan mempersiapkan segala kebutuhannya. Satu-persatu guru dan siswa datang; mengantri di barisan masing-masing. Saya, Anbar, dan Hakim memandu proses pendaftaran dengan menuliskan nama-nama panggilan siswa di kertas stiker sebagai tanda nama serta kelompok mereka dalam workshop nanti. Panitia yang lain pun sibuk dengan tanggung jawabnya masing-masing.

Ketika workshop dimulai, saya kaget karena peserta yang datang lengkap 100% sejumlah 80 orang siswa kelas 7 dan 8. Mereka terlihat antusias untuk mengikuti jalannya kegiatan.

Para peserta kami bagi ke dalam 8 kelompok dan saya bertugas sebagai fasilitator kelompok 5. Di samping itu, saya juga memandu sesi yang membahas mengenai pentingnya toleransi terhadap perbedaan dan keberagaman. Dalam diskusi kelompok, saya memberikan stimulus-stimulus berupa contoh-contoh kekerasan verbal yang sering terjadi. Nampaknya, cara ini bisa membangkitkan perhatian mereka terhadap konten workshop yang lebih dalam. Mereka mulai perlahan-lahan bercerita; membuka diri tentang teman-temannya, bahkan juga guru-gurunya yang menganggap kata-kata kasar sebagai sesuatu yang lazim untuk diucapkan sehari-hari.

***

Melihat mereka mulai ngeh dengan apa yang dibahas dalam workshop ini, saya menjelaskan mengenai pentingnya toleransi terhadap perbedaan dan keberagaman. Mereka terlihat sangat memperhatikan ketika saya menjelaskan mengenai kondisi dari korban kekerasan verbal ketika dikata-katai oleh orang lain. Kita tidak pernah tahu kalau dia sedih di rumah; apakah dia menangis di kamar, tidak mau makan, tidak mau sekolah, ‘hanya’ karena kata-kata kasar yang kita ucapkan.

Susunan workshop pun disampaikan dengan baik. Awal sesi dimulai dengan penjelasan mengenai apa itu kekerasan verbal, lalu diteruskan dengan diskusi kelompok yang memfasilitasi tiap siswa untuk mengemukakan pendapatnya. Di tengah sesi, bahkan ada guru yang bertanya tentang apa yang harus dilakukan ketika mengalami kekerasan, utamanya kekerasan seksual. Meskipun menyimpang dari topik yang diusung oleh Action!, kami tetap memberikan jawaban sebagai insight karena pada akhirnya, semua bertujuan baik.

Melihat kepedulian yang ditunjukkan oleh guru tersebut, saya pribadi berpikir bahwa sebenarnya kekerasan seksual bisa terjadi di mana saja; begitu mudahnya. Hanya saja, mungkin tidak banyak masyarakat yang tahu harus bagaimana ketika dirinya mengalami hal yang kurang menyenangkan. Di akhir sesi, ketika kami meminta masing-masing kelompok untuk melakukan role play sebagai pelaku, korban, dan konsultan sebaya, tertangkap ekspresi bahwa mereka mulai mengerti mengapa kekerasan verbal tidak pantas dilakukan dan menjadi konsultan sebaya dapat menjadi cara mereka berpartisipasi membantu teman yang membutuhkan.

Seusai workshop, kami menerima banyak permintaan pertemanan di media sosial dari siswa-siswa peserta workshop. Beberapa di antaranya mulai berani menceritakan masalah kekerasan verbal yang dialami baik di sekolah, dalam pertemanan, maupun di rumah. Kiranya mereka butuh ruang privat untuk dapat terbuka. Hal ini membuktikan bahwa meskipun hanya dengan sehari workshop, kita bisa menumbuhkan kesadaran dan mengampanyekan semangat antikekerasan verbal!

Semangat untuk Action!


Silvia Ranny Wafiroh adalah lulusan Psikologi dari Universitas Indonesia dan merupakan anggota dari tim Action! #BreakTheChain Strategic Partnership. Silvia juga berperan sebagai fasilitator kelompok dalam Action! Peer Consulting Workshop.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *