Respon Positif Meyakinkan Ravio Indonesia Bisa Menjadi Toleran
April 5, 2016
Silvia Yakin Toleransi Dapat Mencegah Kekerasan
April 5, 2016
Show all

Sartika Percaya Ada Solusi untuk Setiap Masalah

Sebenarnya, saya agak bingung menghadapi anak-anak SMP peserta workshop ini. Alasannya sederhana: saya pikir persiapan untuk menjadi fasilitator kelompok terbilang sangat singkat. Ketika menulis narasi ini, saya mencoba mengingat kembali apa saja yang terjadi sebelum kegiatan dilangsungkan.

Hal yang paling saya ingat ialah berbagai kendala yang saya alami sebagai fasilitator kelompok; karena seperti disampaikan di awal workshop, “untuk dapat memeroleh solusi, kita harus mengakui bahwa ada masalah terlebih dahulu.”

***

Masalah pertama adalah peserta yang cenderung diam dan tidak berpartisipasi. Mungkin saja ini hanya terjadi di kelompok saya, namun tak ada salahnya untuk dibahas. Saya merasa peran fasilitator harus lebih diperjelas sekadar sebagai pemandu diskusi; bukan penentu arah diskusi. Fasilitator kelompok terlalu banyak berbicara menyampaikan materi sehingga peserta tidak mendapat banyak ruang untuk menyampaikan pendapat atau perntanyaan. Agar lebih banyak mendengar. Untuk mengatasi masalah ini, saya rasa dapat diselipkan muatan ringan seperti permainan, kuis, atau sejenisnya yang dapat didesain agar mendorong anak lebih asertif dan terbuka tentang pengalamannya seputar kekerasan verbal dan bullying.

Masalah kedua adalah beberapa kali saya sebagai fasilitator kelompok merasa lost in the middle karena blank harus berbicara apa atau kehilangan berbagai pertanyaan pemicu yang sudah disiapkan. Untuk mengatasi hal ini, dapat disiapkan sebuah dokumen panduan bagi fasilitator kelompok agar lebih terarah; semacam frequenty asked questions (FAQ) yang mencakup berbagai kasus dari pandangan siswa; mulai dari bullying di sekolah, rumah, komunitas, keluarga, lingkungan pertemanan, atau ruang sosial lainnya.

Masalah berikutnya adalah kesulitan membangun kedekatan antara fasilitator kelompok dengan peserta dalam waktu singkat. Hal ini cukup sederhana; sehingga mungkin dapat ditangani dengan saling memperkenalkan diri bukan hanya sekadar nama, kelas, dan data generik lainnya; namun termasuk hal-hal unik seperti hobi, penyanyi favorit, dan berbagai fun facts tentang diri masing-masing.

Masalah terakhir yang saya amati adalah masih sulit mendorong peserta untuk berinteraksi dengan peserta lain yang sehari-harinya tidak berada dalam lingkaran pertemanan yang sama. Akibatnya, mereka hanya berinteraksi dengan itu lagi, itu lagi. Hal ini dapat ditangani dengan melakukan permainan yang menguji seberapa jauh mereka mengenal teman mereka sendiri.

***

Saya melihat bahwa anak-anak senang belajar banyak hal dalam workshop. Akan tetapi, pendekatan fasilitator kelompok harus lebih baik agar dapat mendorong anak-anak untuk membuka diri dan bercerita tentang pengalaman pribadinya sehingga dapat dicari solusi bersama. Pertanyaan seperti “pernahkah kamu ingin bercerita, namun tidak tahu harus pada siapa?” tak ada salahnya dilontarkan sehingga mereka tergugah untuk mencurahkan perasannya.

Di samping simulasi menjadi konsultan sebaya, peserta juga sebaiknya didorong lebih partisipatif dalam diskusi materi. Apresiasi untuk peserta yang lebih aktif dan kontributif juga tidak ada salahnya menjadi bagian dari insentif yang ditawarkan dalam kegiatan.


Sartika Hasirman adalah lulusan Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia dan merupakan bagian dari tim Action! #BreakTheChain Programming and Content. Sartika juga berperan sebagai fasilitator kelompok dalam Action! Peer Consulting Workshop.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *