Kesempatan yang Datang Tak Disangka oleh Dwi
April 5, 2016
Ghivo Ingin Hak-Hak Anak Dipenuhi dan Dilindungi
April 5, 2016
Show all

Pengalaman Membantu Fadhil Memahami Kekerasan Verbal

Wah, akhirnya saya berkesempatan untuk bercerita kembali dengan adik-adik SMP. Senang rasanya bisa berbagi pengalaman dengan mereka. Dalam kegiatan ini, saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi fasilitator kelompok 6 yang terdiri atas lima peserta laki-laki dan tiga perempuan.

Berhadapan pertama kali dengan mereka, saya berpikir harus ada keterbukaan dari diri saya sendiri sebelum meminta mereka untuk bercerita tentang diri mereka sendiri. Maka kata pertama yang keluar dari mulut saya adalah “Dahulu pas seumuran kalian, kakak juga pernah di-bully loh.” Kemudian mengalirlah cerita saya tentang keadaan saya dahulu sehingga membuat mereka tertarik mendengarkannya.

***

Ya. Orang Indonesia sepertinya memang tertarik dengan cerita. Setelah cerita saya berakhir, beberapa dari mereka pun mulai terbuka menceritakan pengalaman mereka sendiri meskipun tetap ada yang malu-malu.

Di samping itu, saya sadar saya harus membawakan materi kegiatan dengan menyenangkan. Terlalu serius hanya akan membuat mereka bosan dan enggan mendengarkan; apalagi berpartisipasi. Kami pun banyak bersenda gurau ketika penyampaian materi berlangsung. Tersenyum adalah kunci utama sehingga adik-adik SMPN 18 Jakarta merasa nyaman.

Salah satu peserta di kelompok yang saya fasilitasi adalah Tian yang selalu berwajah ceria dengan tawa yang terbahak-bahak. Padahal tidak ada yang kelewat lucu. Biarlah. Ada pula Tri yang terlihat lebih dewasa dari sebayanya. Dia dulu sering menjadi target bullying karena kepintarannya. Lain lagi dengan Nisa yang sering dikatai ‘cerewet’ sehingga sering dipanggil “nenek-nenek”. Berbeda dengan Aisyah yang selalu menjadi tempat curhat bagi teman-teman sekelasnya. Aisyah, meskipun begitu, juga tidak tahu mengapa banyak yang ingin bercerita padanya. Sementara Syifa selalu memasang senyum manis namun jarang mengeluarkan sepatah kata; sampai saya pun jadi bingung. Dalam kelompok ini, ada pula tiga orang siswa yang handal dalam bermain sepak bola. Begitu beragamnya kelompok 6 ini membuat saya bangga akan keunikan mereka masing-masing.

***

“Kak, ini jawabannya apa?”

Beberapa anak di kelompok saya menanyakan hal yang sama ketika mereka diberikan kertas teka-teki silang untuk menemukan berbagai kata-kata makian dan hinaan yang sering ditemui. Keantusiasan mereka dalam kegiatan ini ditunjukkan dalam setiap sesi. Mereka menatap lekat fasilitator umum dan kelompok seakan ingin mendapatkan banyak cerita menarik dari kakak yang bedanya hampir sepuluh tahun ini. Hanyaa beberapa jam, namun saya merasa mereka sudah seperti adik sendiri.

Di akhir sesi, saya berpesan bahwa mereka tidak harus memaksakan diri menjadi konsultan sebaya di bagian yang tidak mereka sukai atau sanggupi. “Kalian silakan jadi konsultan sebaya sesuai dengan kelebihan kalian masing-masing. Di situlah indahnya perbedaan. Isilah perbedaan itu dengan keahlian kalian masing-masing, dan bersikaplah toleran terhadap perbedaan.”


Muhammad Fadhil Ibrahim adalah mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Padjadjaran dan merupakan bagian dari tim Action! #BreakTheChain Strategic Partnership. Fadhil juga berperan sebagai fasilitator kelompok dalam Action! Peer Consulting Workshop.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *