Pengalaman Membantu Fadhil Memahami Kekerasan Verbal
April 5, 2016
Pengalaman Peserta Juga Menjadi Pelajaran bagi Hakim
April 5, 2016
Show all

Ghivo Ingin Hak-Hak Anak Dipenuhi dan Dilindungi

Action! Jakarta Peer Consulting Workshop dilaksanakan pada Sabtu, 19 Maret 2016. Kegiatan dihadiri oleh 80 siswa dan 15 guru dengan lokasi di SMPN 18 Jakarta. Kami memulai workshop pada pukul 10.00 WIB sesuai dengan jadwal kegiatan. Setelah membagi para peserta ke dalam delapan kelompok secara acak, saya pun mengambil posisi sebagai fasilitator kelompok satu.

***

Pertama kali melihat wajah anak-anak yang akan mengikuti workshop, mereka menunjukan ekspresi kaku dan cemas. Ada yang pandangannya tidak beranjak dari meja, ada yang diam senyap, dan ada yang pandangannya menjelajah sekitar. Namun, sedikit obrolan menarik mengenai pengalaman seputar kegiatan sekolah dan perkenalan mampu mencairkan suasana. Setidaknya, mereka mulai berani melihat fasilitator umum atau kelompok yang sedang berbicara.

Setelah berkenalan dengan delapan siswa yang ada di kelompok saya, saya menjadi pemandu untuk materi hak dan perlindungan anak. Banyak peserta merasa penasaran akan hak yang mereka miliki. Saya sempat bertanya, hak-hak yang belum dan/atau sering terlupakan oleh orang-orang di sekitar mereka. Jawaban terbanyak yang mereka sebutkan adalah hak untuk berpendapat, didengarkan, dan bermain.

Banyak pula dari peserta yang merasa kesulitan berpendapat dan/atau berkomunikasi dengan orang dewasa. Bahkan, ketika mereka menjadi korban/pelaku kekerasan, mereka sulit untuk didengarkan. Selain itu, untuk berpendapat mengenai kehidupannya sehari-hari pun, mereka masih jarang diberikan kesempatan.

Di samping hak, mereka juga diberikan pengetahuan mengenai perlindungan anak. Banyak dari siswa yang merasa beberapa aktivitas di sekitar mereka sebagai bentuk kekerasan. Lelucon antarteman, memukul teman, bercerita seram, dan sejenisnya dapat berdampak negatif bagi mereka.

Jelang tengah hari, kami pun bersiap untuk istirahat, ibadah, dan makan siang bersama. Beberapa siswa tampak masih asyik berdiskusi dengan teman-temannya. Pembentukan kelompok yang disusun secara acak membuat siswa kembali ke peer group-nya masing-masing pada saat makan siang. Namun, beberapa siswa yang saya lihat dan dampingi mulai berdiskusi mengenai hak yang mereka miliki dan bentuk kekerasan yang terjadi di sekitar mereka sehari-hari.

***

Waktu untuk kembali masuk ke dalam ruangan telah tiba dan pesertaa mulai memadati ruangan. Tim Action! #BreakTheChain mulai menjelaskan tentang Action! Book yang sudah dibagikan. Banyak dari siswa yang merasa senang. Mereka membaca halaman demi halaman tanpa menunggu aba-aba. Ketika memasuki halaman mengidentifikasi perbedaan, mereka berlomba-lomba untuk mengisi jenis perbedaan yang pernah mereka temui. Beberapa siswa melihat daftar isi, beberapa melihat teman sebelahnya, dan beberapa lainnya mengerjakan dengan tenang.

Setelah mengerjakan pemicu yang ada dalam Action! Book, kami melanjutkan diskusi dengan materi menjadi konsultan sebaya dengan bantuan Action! Guide for Peer Consultant. Materi ini cukup sulit dipahami oleh siswa kelompok 1 walaupun sudah diberikan banyak ilustrasi. Sebagian besar dari mereka mengulang kata-kata yang terdapat di dalam buku sehingga belum mampu memahami arti dari setiap poin yang disampaikan. Namun, beberapa siswa tetap semangat untuk membantu teman-teman lainnya dari kekerasan walaupun mereka terlihat harus membaca buku/komik secara berulang kali untuk mengerti makna di balik tulisan dan gambar yang mereka lihat. Hal ini tentu juga menjadi perhatian dan masukan yang membangun bagi kami untuk ke depannya.


Ghivo Pratama adalah lulusan Sosiologi dari Universitas Indonesia dan merupakan Action! #BreakTheChain Project Lead. Ghivo juga berperan sebagai fasilitator kelompok dalam Action! Peer Consulting Workshop.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *