IMG_20160311_141818_HDR-830x623
AKSI PERDANA ACTION!: KAMPANYE ANTI KEKERASAN DENGAN METODE ANTARTEMAN
March 13, 2016
Kesempatan yang Datang Tak Disangka oleh Dwi
April 5, 2016
Show all

Anbar Tidak Menuntut Perubahan untuk Datang Begitu Saja

Panik!
Begitulah reaksi awal saya ketika harus berhadapan dengan siswa-siswi SMPN 18 Jakarta. Bagaimana tidak. Mereka begitu aktif; mengisi presensi saja kritis, apalagi nanti berdiskusi.

Bullying.
Istilah populer untuk kekerasan verbal. Ya, lokakarya ini bertujuan untuk berbagi tentang menjadi konsultan sebaya untuk melawan kekerasan verbal. Di dalamnya, siswa-siswi SMPN 18 Jakarta dibagi menjadi 8 kelompok. Saya kebagian memfasilitasi kelompok 2.

Dua.
Kelompok yang terdiri dari siswa-siswi aktif nan beragam. Mulai dari pemain futsal, pegiat organisasi intrasekolah, hingga penyuka musik dan tari. Karakter mereka pun bermacam-macam; yang pendiam, yang tidak bisa berhenti bicara, dan yang terus mengolok-olok temannya.

***

Cerita tentang kekerasan verbal di kehidupan mereka dimulai dari keseharian mereka. Mereka mengakui; mengatai temannya membawa kepuasan tersendiri. Mereka menyatakan, kurang lebih, “sudah biasa, kak, saling meledek teman itu”. Saya pun tidak tercengang. Situasi persis seperti inilah yang menjadi alasan mengapa Action! itu ada.

Terhadap hal inilah, saya mencoba menjelaskan pelan-pelan; apa itu arti berbeda, pentingnya toleransi, dan mengapa yang biasa bisa jadi bahaya. Mereka mengangguk, mengiyakan; entah tanda mengerti atau berusaha menyenangkan saya yang berbicara hingga berbusa.

***

Action! Book dan Guide for Peer Consultant.
Saya pikir mereka tidak akan antusias dengan buku-buku ini. Biasa, Indonesia kan di-cap sebagai salah satu negara dengan tingkat literasi terendah.

Tapi tidak.

Ternyata, mereka bersemangat sekali ketika membahas satu-persatu contoh yang ada di dalam Action! Book; terutama tentang perbedaan. Mereka membaca seksama komik yang ada di dalam Action! Guide.

Saya senang.

***

Dua.

Kelompok ini kemudian memeragakan menjadi konsultan sebaya. Walaupun sekadar drama, mereka mengerti. Mengerti bahwa menjadi pendengar yang baik adalah penting. Mengerti bahwa berempati kepada teman dan masalah menjadikan kita manusia.

Di akhir diskusi dengan kelompok dua, saya menitip pesan bahwa lokakarya ini tidak memaksa mereka untuk berubah seketika. Pesan yang penting adalah agar mereka mencoba untuk mengurangi kekerasan verbal yang dianggap biasa. Tentang menjadi konsultan sebaya; setidaknya jadilah pendengar dan dapat dipercaya.

Mereka lagi-lagi mengangguk, mengiyakan, seraya tertawa.


Anbar Jayadi adalah lulusan Hukum dari Universitas Indonesia dan merupakan Deputy Project Lead dari Action! #BreakTheChain. Anbar juga berperan sebagai fasilitator kelompok dalam Action! Peer Consulting Workshop.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *