toleransi-fondasi-utama-cegah-kekerasan-anak-top
Toleransi, Fondasi Utama Cegah Kekerasan Anak
March 13, 2016
Action! Poster @america
UI dan Unpad Berkolaborasi Cegah Kekerasan terhadap Anak
March 13, 2016
Show all

KPAI Nilai, Kekerasan di Lingkungan Anak Kondisi Darurat

Sejumlah peserta membawa peraga kampanye perlindungan hak anak saat Salatiga Christmas Parade, di Salatiga, Jawa Tengah, Sabtu (19/12). Kampanye tersebut mengajak masyarakat untuk lebih menghargai hak dan perlindungan anak dari tindakan kekerasan, eksploitasi, dan pelecehan seksual. ANTARA FOTO/ Aloysius Jarot Nugroho/ama/15.

Jakarta, sumbarsatu.com – Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto, mengatakan saat ini kekerasan dalam lingkungan anak Indonesia berada pada keadaan yang darurat. Dari infomasi yamng dihimpun, terdapat peningkatan jumlah anak yang menjadi pelaku kekerasan walau jumlah korban berkurang.

“Kalau melihat jumlah korban yang teridentifikasi memang menurun dibanding tahun 2014 dan 2015. Namun, jumlah anak-anak sebagai pelaku kekerasan atau bullying menunjukkan peningkatan,” kata Susanto dalam peluncuran kegiatan Action! #BreakTheChain di @america, Pacific Place, Jakarta, pada Jumat (11/3/2016).

Sementara itu, Susanto menyampaikan saat ini penyusunan peraturan presiden (Perpres) terkait bullying sedang dalam proses penyusunan yang tidak hanya melibatkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), namun beberapa kementerian terkait lainnya.

“Kami telah dorong terus pemerintah, mungkin April bisa terbit,” tuturnya.

Kegiatan Action! sendiri, sebagai salah satu bentuk kampanye anti-kekerasan terhadap anak, melakukan peluncuran sebagai pembuka berbagai kegiatan lain mereka.

Dengan dihadiri sekitar 80 peserta dari delapan sekolah menengah pertama di Jakarta dan Jawa Barat, peluncuran Action! diisi dengan berbagai kegiatan di antaranya talk-show dan deklarasi anak Indonesia untuk menanamkan sikap toleransi.

“Kami menekankan toleransi untuk mencegah kekerasan verbal dalam lingkungan anak karena sikap tersebut sering kali dinilai tidak terlalu penting. Padahal, hal tersebut dapat berpengaruh besar dalam kehidupan kita sehari-hari. Selain itu, diketahui juga terjadi peningkatan anak sebagai pelaku bullying, saya yakin hal tersebut disebabkan minimnya toleransi,” papar Ketua Pelaksana Action! Ghivo Pratama.

Ghivo juga menyampaikan tujuan dari kegiatan yang didukung oleh Young South-East Asian Leaders Initiatives (YSEALI) tersebut adalah meningkatkan kepedulian masyarakat mengenai isu kekerasan verbal khususnya dalam lingkungan anak-anak.

“Selain itu kami juga ingin memberdayakan anak-anak melalui program peer-consultant atau konsultan sebaya, yang membawa nilai toleransi tersebut,” tutur Ghivo.

Setelah peluncuran, lokakarya akan berlangsung di dua SMP yang berlokasi di Jakarta dan Bandung. Untuk pelaksanaan di Jakarta akan berlangsung pada 19 Maret 2016, sedangkan di Bandung pada 30 April 2016.

“Bentuk kegiatannya berupa diskusi kelompok terarah guna mempersiapkan mereka menjadi konsultan sebaya. Kami pun menyiapkan buku pegangan untuk mereka mengemban tugas sebagai konsultan sebaya. Nantinya, cerita dan pengalaman yang mereka rasakan akan ditampilkan di situs resmi Action!” terang Ghivo.

Diakui Susanto, pencegahan kekerasan yang dialami dan dilakukan oleh anak harus tumbuh dari seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya lembaga negara.

“Semua harus bergerak atas hal ini, maka dari itu saya sangat apresiasi inisiasi kelompok muda kreatif seperti Action! ini, karena dapat lebih efektif dibandingkan pendekatan atau doktrinatif orang dewasa,” paparnya.

Sebagai salah satu pembicara dalam talk-show tersebut, Fabelyn Baby Walean, perwakilan Sudah Dong, melihat tujuan toleransi memang sebagai hal yang penting untuk ditanamkan pada anak-anak.

“Semoga toleransi bisa tertanam dalam jiwa anak-anak Indonesia dengan menghargai perbedaan dan menjadikannya sebagai modal memperkaya bangsa, bukan memicu perpecahan,” ujar Fabelyn.

Sejalan dengan Fabelyn, Founder dari Yayasan Sejiwa Foundation, Diena Haryana menyampaikan toleransi sebagai fondasi penting untuk ditanamkan dalam diri anak-anak.

“Dengan toleransi sebagai fondasi perdamaian, akan tertanamkan dalam diri mereka perilaku-perilaku anti kekerasan,” ujar Diena.

Diena juga melihat kegiatan-kegiatan sosial yang menyuarakan anti kekerasan, di antaranya Action!, harus perlu dilanjutkan agar toleransi dan kedamaian kuat menjadi dasar dalam kehidupan.

“Saya senang melihat anak-anak muda bersemangat menyuarakan anti kekerasan. Dengannya masing-masing dari kita bisa bekerja sama secara produktif,” tuturnya. (SSC)

Sumber: sumbersatu.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *