531457779931
KPAI Luncurkan Kampanye Antikekerasan pada Anak
March 13, 2016
toleransi-fondasi-utama-cegah-kekerasan-anak-top
Toleransi, Fondasi Utama Cegah Kekerasan Anak
March 13, 2016
Show all

Kaum Muda Cegah Kekerasan Verbal pada Anak

25236917400a4fda92eec3dc61bfbab4

JAKARTA, KOMPAS — Kaum muda tergerak cegah kekerasan verbal pada anak. Action! #BreaktheChain adalah gerakan melawan kekerasan pada anak yang diinisiasi oleh delapan mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Padjadjaran (Unpad).

Delapan mahasiswa dari Universitas Indonesia dan Universitas Padjadjaran penggagas Action! #BreaktheChain, sebuah gerakan melawan kekerasan pada anak khususnya kekerasan verbal.
KARINA ISNA IRAWAN
Delapan mahasiswa dari Universitas Indonesia dan Universitas Padjadjaran penggagas Action! #BreaktheChain, sebuah gerakan melawan kekerasan pada anak khususnya kekerasan verbal.
Kedelapan penggagas gerakan ini adalah Ghivo Pratama (UI), Anbar Jayadi (UI), Khansaa ziz Fathima (Unpad), Ravio Patra (Unpad), Sartika Hasirman (UI), Muhammad Nur Hakim (Unpad), Muhammad Fadhil Ibrahim (Unpad), dan Silvia Ranny Wafiroh (UI).

Peresmian Action! #BreaktheChain dihadiri Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Susanto, Diena Haryana pendiri Sejiwa, dan Fabelyn Baby Walean mewakili Sudah Dong, Jumat (11/3/2016), di @america Pasific Place, Jakarta. Ketiganya menyampaikan pesan toleransi anti kekerasan dengan tema “Embracing Tolerance: An Action! Towards Zero Violence in Indonesia”.

Ketua Action! BreaktheChain Ghivo Pratama mengemukakan, tingginya angka kasus kekerasan pada anak mendorong terbentuknya Action! #BreaktheChain. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sampai April 2015 mencatat 6.006 kasus kekerasan pada anak yang teridentifikasi. Salah satu kekerasan yang kerap terjadi adalah kekerasan verbal, seperti bullying di sekolah.

“Kekerasan verbal dinilai sebagai salah satu kekerasan yang dampaknya cukup signifikan. Sebab, dampaknya mengikuti tumbuh kembang anak,” katanya.

Sartika Hasirman sebagai moderator, Fabelyn Baby Walean mewakili Sudah Dong, Diena Haryana pendiri Sejiwa, dan Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Susanto memaparkan tentang kekerasan verbal pada anak dengan tema
KARINA ISNA IRAWAN
Sartika Hasirman sebagai moderator, Fabelyn Baby Walean mewakili Sudah Dong, Diena Haryana pendiri Sejiwa, dan Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Susanto memaparkan tentang kekerasan verbal pada anak dengan tema “Embracing Tolerance: An Action! Towards Zero Violence in Indonesia”, Jumat (11/3/2016), di @america Pasific Place, Jakarta.
Ghivo menjelaskan, ketika usia anak bertambah dimungkinkan ada bentuk-bentuk gangguan yang dialami mereka sebagai dampak dari kekerasan verbal masa lalu. Misalnya, berkaitan dengan rasa percaya diri dan rasa takut. Indikasi yang kemudian muncul adalah penurunan prestasi di sekolah. “Yang tadinya biasa, bisa berbahaya. Kekerasan verbal justru dapat memicu kekerasan fisik dan kekerasan lain,” katanya.

Ghivo menuturkan, pembeda Action! #BreaktheChain dengan gerakan lain adalah adanya program konsultasi sebaya. Program tersebut mengedukasi anak-anak untuk mencegah dan menghentikan kekerasan pada teman sebaya. Melalui kegiatan tersebut, anak-anak akan dibekali pengetahuan tentang toleransi dan panduan tindakan ketika terjadi kekerasan di sekitar mereka. “Sebanyak 160 siswa sekolah menengah pertama akan menjadi konsultan sebaya. Nantinya, mereka akan mengedukasi teman sebaya untuk mencegah kekerasan verbal,” katanya.

Lokakarya direncanakan pada 19 Maret di Bandung dan 30 April di Jakarta. Siswa akan diberikan buku panduan khusus untuk mempersiapkan mereka menjadi konsultan sebaya.

Acara ditutup dengan pembacaan Deklarasi Melawan Kekerasan yang isinya menentang segala bentuk kekerasan verbal. Deklarasi bertujuan membangun rasa kepedulian anak muda tentang kasus kekerasan verbal yang sering dianggap biasa.

Sumber: http://print.kompas.com/baca/2016/03/11/Kaum-Muda-Cegah-Kekerasan-Verbal-pada-Anak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *